Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2017

GULA PASIR

Belajar Ikhlas dari Gula Pasir . ✵ Gula pasir memberi rasa manis pada kopi, tapi orang menyebutnya kopi manis, bukan kopi gula. . ✵ Gula pasir memberi rasa manis pada teh, tapi orang menyebutnya teh manis, bukan teh gula. . ✵ Gula pasir memberi rasa manis pada es jeruk, tapi orang menyebutnya es jeruk manis, bukan es jeruk gula . ✵ Gula pasir memberi rasa manis pada roti, tapi orang menyebutnya roti manis, bukan roti gula. . ✵ Gula pasir memberi rasa manis pada sirup, tapi orang menyebutnya sirup apel, sirup jambu, dll. Gula tetap ikhlas larut dalam memberi rasa manis. . Akan tetapi apabila berhubungan dengan penyakit, barulah gula disebut, PENYAKIT GULA ..! . Begitulah hidup, kadang kebaikan yang Kita tanam tak pernah disebut orang. . Tapi kesalahan akan dibesar-besarkan. Larutlah seperti gula... Ikhlaslah seperti gula... Tetap semangat memberi kebaikan... Tetap semangat menyebar kebaikan...

Jangan bangga di panggil sayang

Yang senang dipanggil sayang, yang bangga karena dipanggil saya, tidakkah kau menyadari jika panggilan sayang itu bisa dilakukan kesemua orang dan kesemua hal. Jangan terlalu bangga dipanggil sayang sama dia, yang suka mengobral kata sayang. Sebab makanan yang jatuh sebelum lima menit juga dibilang sayang. Kamu yakin panggilan sayang itu adalah panggilan paling spesial? panggilan sayang itu kini sudah menjadi sesuatu yang bias-biasa saja. Dan akan menjadi sangat biasa saja kalau terlalu sering diucapkan. Makanan Yang Jatuh Belum Lima Menit Juga Dibilang Sayang, Lah Apa Yang Mau Dibanggakan Dari Dipanggil Sayang? Jangan terlalu bangga dipanggil sayang dan sering dipanggil sayang, karena makanan belum jatuh lima menitpun juga disayang. Jatuh lalu diambil karena masih sayang untuk dibuang. Pernah membayangkan jika kau ada diposisi makanan yang seperti itu? Pasti nyesek bangetdeh. Berbanggalah Dipanggil Istriku/Suamiku Karena Tidak Semua Orang Bisa Dipanggil Seperti Itu Jaman sekaran...

Untuk kamu

Untuk kamu, Yang sempat hadir. Apa kabar? Sudah lama kita tak jumpa. Jangankan berjumpa, saling sapa pun sudah tidak. Aku maklumi itu semua. Aku menghargai kehidupanmu, dan kau? entahlah masih peduli dengan hidupku atau tidak. Mungkin kamu akan bertanya, kenapa aku menulis ini semua? Jika kau mengira, karena aku ingin mencuri perhatianmu tentu tidak. Untuk apa. Lalu jika kau mengira, aku ingin mendramatisir keadaan itupun tidak. Sama sekali tidak. Aku menulis semua ini hanya karena rindu. Tak pernahkah kau merasakannya juga? Aku harap kau sempat merindukanku walau hanya semalam. Setidaknya kau mengingat bagaimana aku tertawa lalu menangis. Setidaknya kau mengingat bagaimana susahnya berusaha dan mudahnya menyerah. Cinta kita hanyalah cinta monyet. Cinta yang tumbuh dibawah atap sekolah. Cinta yang terus tumbuh hanya karena memandang dari jauh. Cinta yang terus tumbuh ketika kita bertukar sapa dan senyum. Cinta yang terus tumbuh karena pipiku merona setiap kali mendengar namamu. Man...